Petangku ini tak sempat berbalas dengannya.Bersandar ku di sudut pojok kamar dengan bergenggam jari jemari yang lambat laun makin merubah suhunya.Entah apa yang ku rasa, semua berkumpul menjadi satu, merasuk di dalam pikiran.
Petangku,
kini tak sempat berbalas dengannya. Yang ada kini hanya dirikiu yang bergenggam kertas putih diatas meja belajar.
Aku tak tau apa yang kini kurasakan. Dia masih
saja mengusik diriku. Yang aku tau hidupku terasa lebih indah sejak berpapasan
pertama kali denganmu. Ku pikir kini diriku sudah lupa ternyata rasa itu masih
ada
Sementara itu, foto yang bersandar dibawah
ventilasi kamar dengan bingkainya yang nian indah dan berbalut pita di setiap
ujungnya itu terus mengamatiku dari kejauhan. Iya, aku selalu teringat dia yang
selalu ada ketika diriku tak kuat menahan tangis di pelupuk mata. Kapan lagi
dia datang, mengisi hari-hariku seperti dahulu kala. Yang ada, hanya sisa pesan
yang pernah ia lontakan di tiap waktu senggangnya. Apalah dayaku, yang hanya
mampu membaca berulangkali demi menghibur hati agar serasa seperti dahulu.
*
Dibalik persembunyianku ini ada hati yang ku tunggu yaitu kamu.
Aku hanya ingin bersabar, berharap akan ada kejutan dibalik rahasiaku yang
terpendam. Daripada memaksa, yang akan menghempaskan sakitnya perasaan kecewa.
Hingga akupun berpikir, lebih baik memendam harapanku ini yang tak sempat
terlabuhkan. Meskipun ada rasa yang hinggap dihatiku, aku masih tak mengerti,
apakah sanggup untuk aku pertahankan?
Sampai sekarang aku tak tau, karena dibalik suatu jawaban pasti akan ada
ruang untuk pilihan.
Meskipun kamu sering diamkan aku, tapi aku yakin mungkin ini
caramu untuk menyimpan perasaanmu padaku. Maafkan jika selama ini aku hanya
berdiam pula, aku hanya ingin menunggu waktu yang tepat saja. Sebenarnya dalam
hatiku sering menggerutu jika lama tak ada kabar darimu. Aku hanya bisa
menunggu. Sesingkat apapun pesan yang kau kirimkan, semua itu sangatlah
berharga bagiku dan masih ku simpan sampai sekarang. Seringkali aku memang
merindumu, tapi apalah dayaku. Karena semua itu membutuhkan kesabaran.
Maafkan jika selama ini aku punya salah,
mungkin saja terkadang aku berburuk sangka terhadapmu karna kau sering tak
memberikan sedikitpun kabar untukku, dan itu hanya ku pendam sendiri. Aku
memang seperti ini, aku hanya wanita yang selalu dalam kediaman dan memendam
cerita sendiri. Jujur, aku sangat malu apabila bertemu denganmu untuk
menceritakan perihal tentangku. Bahkan, untuk menghubungi lewat sms atau
telepon pun aku merasa malu. Untuk itu, aku menulis surat ini yang bisa
dikatakan ringkasan dari buku diary ku.
Maafkan jika aku sering mengkhawatirkanmu.
Karna diammu memberikan ruang bagiku untuk merasa takut. Namun, sebenarnya aku
tak bermaksud seperti itu, hanya saja rasa ini selalu hadir, karna yang ku tau
mungkin rinduku tak akan sempat terucap padamu. Bagiku, tiap hari akan terasa
lebih indah karna telah ada sosok lelaki sepertimu. Karna itulah aku selalu
percaya diri dan optimis dalam melakukan sesuatu. Aku yakin bahwa kau akan
berikan yang terbaik untukkku pada waktunya.
Andaikan kamu tau, hari serasa sunyi dan
sepi ditiap pagiku. Hanya nyanyian burung dan sapaan mentari yang mampu mengisi
keceriaan hatiku. Sebenarnya, aku sendiri merasakan sakitnya rasa yang tak
terkatakan. Rasa yang hanya mampu didekap dalam bungkam kediaman. Bahkan diam
dalam berbicara karna tak sedikitpun kamu bertegur sapa denganku.
Masih dalam segudang rasa penasaranku.
Terkadang, aku mengerutkan kening karena menunggu kehadiranmu. Namun, aku tak
bisa menemuimu. Iya, aku hanya inginkan waktu yang tepat. Aku rasa sekarang
kita hanya bisa menjaga satu sama lain.
Hari-hariku adalah penantian. Hanya lewat
penantian dan kesabaran kita akan dipersatukan. Rasa gelisah pasti selalu
berselimut dalam hatiku. Mungkin saja menjadi rutinitas di tiap hariku. Tak
jarang aku merasa seperti bulan yang berjalan sendiri tanpa adanya bintang.
Malam petangku pun menjadi suasana penuh harap. Berharap kita sedang menatap
bintang dalam waktu bersamaan.
Rasa ingin tau selalu mendera dalam
hidupku. Bagaimana kabarmu disana? Apakah kamu baik-baik saja? Itu yang selalu
terlintas dalam ubun-ubunku seketika merindukanmu. Memandangimu dalam realita
mungkin sedikit perih. Meski hanya dalam sebuah mimpi yang dikata orang mimpi
hanya sebatas semu belaka. Tapi, aku selalu berpikir positif. Aku yakin bahwa
kamu akan selalu menjaga sesuatu yang engkau rasakan. Aku hanya tak inginkan
kau membuatku menguras kesedihan, karena perasaan tak sekedar diremehkan.
Semoga saja kau tak seperti orang yang memancing ikan dan mencoba untuk
melepaskannya begitu saja. Karna ikan yang telah terjerat, akan merasa sakit
pabila dilepaskan begitu saja.
Seringkali ku sendiri bersandar di jendela,
meneteskan air mata dan berharap kamu datang sambil melontarkan senyuman
padaku. Mungkin semua itu dapat membuatku lebih bahagia. Tapi seperti inilH,
berdiam adalah caraku untuk menjaga diriku sendiri. Yang aku inginkan, kamu
mampu membuatku tersenyum dengan caramu sendiri, karna semua itu dapat
mengarahkanku pada kebahagiaan.
Sebenarnya aku tak pernah lelah menuliskan
di buku diary ku ini. Terkadang, aku ingin menghentikan kebiasaan yang selalu
terlintas di keseharianku. Namun, aku tak bisa. Aku tak bisa melakukannya.
Karna itu hanya membuatku larut dalam kesedihan. Jadi, inilah caraku untuk
membuang kesedihan yang sedang aku rasakan. Sehingga aku selalu menyempatkan
waktu untuk bercerita tentangmu di buku kecilku. Harapanku, kelak kamu tau
tentang hal apa saja yang selama ini aku pendam.
Aku malu, rasanya berat sekali bila bertemu
denganmu. Semua aku lakukan karna aku ingin menghidari menatap wajahmu secara
berlebihan. Mungkinkah aku salah jika mempunyai rasa denganmu. Ya Allah…maafkan
aku. Aku tak bisa menghilangkan rasa
ini. Aku yakin, bila aku dan dia berjodoh, maka tak akan pernah mampu lari jauh
walaupun dipisahkan oleh jarak dan waktu. Jika memang kita berjodoh, kelak kita
akan bertemu di waktu yang tepat. Semoga saja kamu masih mencariku setelah
pulang dari kepergianmu.
Kamu..iya kamu. Hariku serasa lebih indah
setelah kamu hadir dalam kehidupanku. Aku sangat beruntung berjumpa denganmu
meskipun dalam ketidaksengajaan. Sampai sekangpun, aku masih ingat saat pertama
kali kita bertemu. Meskipun ada rasa yang terpendam dalam diriku. Aku tak
inginkan kamu seperti teman-teman yang lain. Aku merasa geli melihat di
sepanjang hiruk pikuk perjalanan waktu. Seringkali ku melihat pasangan yang memamerkan
kemesraannya. Mungkin mereka lebih senang bila kesana kemari bersama orang yang
dicintainya. Namun, aku tak inginkan itu. Karena itulah pilihanku, aku yakin
akan ada ruang bagi kejutan yang tak mampu diprediksi.
Mungkin cara ini lebih baik. Selain untuk
menjaga diri, kita juga bisa menghindarkan diri dari segala sesuatu yang
berujung pada hal yang negative. Cukup sederhana saja, semoga kita bisa menjaga
satu sama lain J.
Lebih baik kita menjaga diri dan menguatkan diri kita terlebih dahulu
Menangisku dalam do’a mungkin tak cukup
bagiku. Mungkin belum mampu menghapus kesedihanku selama ini. Selalu ku pendam
sendiri dan menceritakan ceritaku ini kepada-NYA. Mungkin akan ada jawaban
tanpa harus aku tanyakan kepadamu tentang sesuatu yang sedang aku pikirkan
sekarang. Aku hanya inginkan kamu percaya saja. InsyaAllah aku akan selalu
menjaga perasaan ini hanya untukmu tanpa ada suatu ikatan ‘’pacaran’’. Menurutku, inilah yang ingin aku jalani
bersamamu. Yang aku harap… kau pun begitu J.
Terimakasih telah membaca segala curahan
hatiku ini. Maafkan jika tak ada sesuatu yang special dariku, karena aku tak
punya apa-apa. Aku hanya berusaha menjadi seseorang yang lebih baik dan semoga
kau bisa mengarahkanku untuk menuju kesana.
Aku memang tak pernah tau bagaimana caramu
mencintaiku. Tapi aku yakin, dibalik kediamanmu itu ada maksud tertentu dan
itulah yang terbaik untuk kita. Semoga kita bisa menjaga satu sama lain.
Meskipun sekarang jarakmu berjauhan denganku. Disini, aku selalu merindukanmu.
Meskipun tak jarang kau mengabariku, aku akan selalu percaya, aku yakin kau
akan selalu setia bersamaku.
Maafkan jika terlalu banyak kata yang
terulang-terulang dibuku yang aku berikan kepadamu ini. Karena memang
berlembar-lembar cerita yang tertulis di buku diary ku berisi tentang itu,
sampai berulang-ulang aku menulisnya. Namun, aku tak pernah bosan membaca
halaman sebelumnya.
Terlintas dalam pikiranku adalah menunggu
kabar darimu. Seringkali, aku memang tak inginkan memulai percakapan terlebih
dahulu darimu. Bukan karena aku tak peduli padamu, bukan karena aku sudah
melupakanmu, bukan karena aku tak mengkhawatirkanmu, bukan karena aku sedang
marah padamu, bukan karena sudah ada seseorang yang mampu menggantikanmu untuk
mengisi hariku, bukan karena kau kurang sempurna untukku, bukan karena aku
sudah tak memiliki rasa yang special lagi untukmu.. Tapi karena itulah caraku
untuk menjaga perasaan ini untukmu.
Aku memang menyayangimu, maafkan jika aku
terlalu berlebihan. Hanya lewat tulisan inilah aku menceritakan apa saja yang
aku rasakan selama adanya dirimu.
Kamu, jaga kesehatanmu selalu ya disana.
Disini aku selalu mendo’akanmu sekeluarga. Jangan lupakan aku meskipun sekarang
kita berjauhan. Jika kau tak sedang sibuk, berilah kabar tentangmu untukku.
Karna aku sangat mengkhawatirkanmu.
Maaf jika kau merasa jenuh membaca semua
tulisanku ini. Aku sangat senang jika kini kau telah mengerti apa hal yang aku
pendam selama ini. Aku hanya butuh waktu yang tepat untukku menceritakan semua
ini padamu.
Pernah terlintas olehku untuk dapat
menemuimu sebelum kau bergegas menempuh pekerjaan. Sore ini, aku berharap ada
sesuatu yang special yang dapat aku kenang nantinya. Dan harapan itu terwujud.
Aku sangat senang sekali saat lebaran kemarin bisa berjumpa denganmu. Maafkan
jika aku terdiam, sebenarnya terlalu banyak hal yang ingin aku ceritakan hingga
akupun berusaha menyimpan lagi, lagi dan lagi. Terimakasih telah memberikan
sesuatu yang berharga untukku. Terimakasih telah merubahku menjadi pribadi yang
lebih baik. Bahagiaku adalah ketika seseorang merasa bahagia akan kehadiranku
disisinya dan bahagiaku pula ialah ketika melihatmu tersenyum. Aku inginkan
detik itu akan dapat berulir kembali. Terimakasih ya telah menyempatkan waktumu
untuk membaca ringkasan dari keseluruhan buku diary ku.
Selamat ulangtahun. . . Semoga Allah
berikan umur yang panjang dan selalu melindungimu. Jadilah anak yang berbakti
kepada orangtua. Aku tau, ada keluarga yang sedang membutuhkanmu, Bahagiankanlah
mereka terdahulu. Maka kamu akan merasakan bahwa kamu tak sanggup hidup bersama
orang-orang yang kamu sayang. Yang terpenting adalah jangan lupa untuk selalu
beribadah, sesibuk apapun kamu. InsyaAllah semua yang kamu lakukan tidak akan
sia-sia dan akan diberi kemudahan oleh Allah Swt.
Semoga bingkisan terakhirku ini sangat
bermakna untukmu. Walaupun hanya lembaran kertas yang berlumuran goresan tinta
hitam saja. Disini, aku selalu berharap, dalam sunyi, dalam kediaman. Dalam
hari-hari yang penuh harap. Sejujurnya, aku tak sanggup melepas kepergianmu
bergitu saja. Untuk saat ini, aku hanya membutuhkan teman seperti pohon, yang
selalu setia menemaniku, yang mampu menyerap air mataku tanpa satupun orang
yang tau. Kini, biarlah rintihan air mataku melebur, terseret oleh angin dan
derasnya air hujan. Terimakasih, kau telah membuka bingkisanku ini secara
perlahan, membacanya kata demi kata.
Nur Aviana
Ig : @nur_aviana